shutterstock_music1
Pernah bertanya-tanya kenapa kamu bisa begitu menghayati suatu musik atau lagu? Misalnya, lagu melankolis yang kamu dengarkan ketika sedang patah hati atau lagu yang entah kenapa bisa membuat kamu begitu bersemangat? Nah, pertanyaan itu juga menjadi minat para peneliti yang mendalami teori emosi dalam musik.

Ya, musik dapat mempunyai muatan emosi tertentu, tapi “di mana” letak fungsi afektif (emosional) musik itu. Pada musik itu sendiri atau pada si pendengarnya? Maksudnya, kita bisa bilang musik itu mengekspresikan emosi tertentu karena properti inheren dari musik (melodi, tempo, dll) atau karena faktor personal dari kita sebagai si pendengar?

Menurut Alf Gabrielsson, seorang ahli di bidang psikologi music, untuk memahami ekspresi emosi dalam musik, kita perlu membedakan antara proses “emotion perception“ dan “emotion induction“. Maksudnya, seorang pendengar musik dapat saja menangkap ekspresi emosi dari sebuah musik tanpa perlu mengalami emosi itu sendiri. Proses inilah yang dimaksud dengan emotion perception atau persepsi emosi yang terkandung dalam musik. Itu artinya ada nilai “objektif” dari fungsi emosional musik, yang membuat kita sebagai pendengar dapat mengenali musik yang bernuansa ‘sedih’, ‘gembira’, ‘relaxing’ , dan sebagainya.

Lebih jauh lagi, saat mendengar sebuah musik, kita dapat ‘mengalami’ emosi tertentu. Inilah proses emotion induction, di mana musik membawa kita hanyut dalam emosi tertentu. Seseorang, karenanya, dapat dengan bebas memberikan respon emosi terhadap musik yang didengarnya. Secara gamang, emotion perception dimaksudkan sebagai kerja intelektual (sebatas proses persepsi kognitif) sementara emotion induction melibatkan respon emosional (apa yang dirasakan saat mendengar musik tertentu).

Seorang teman saya yang mempelajari gitar klasik, misalnya, mengakui bahwa dia cukup sering melakukan “analisa” saat memainkan sebuah lagu. Pada saat melakukan kerja intektual itu, dia cenderung tidak memberikan respon emosi, tapi lebih menekankan pada pengenalan kunci gitar, ketukan, dan properti musij lainnya.

Seorang teman lain yang juga mempelajari teknik bermain gitar klasik juga setuju bahwa kalau sedang belajar komposisi gitar lewat audio file, ia akan cenderung “cuek” dengan emosi yang ada dalam lagu tersebut. Tapi, mereka dapat memahami muatan emosi yang terkandung dalam musik yang mereka dengar. Misalnya, tempo cepat untuk musik yang riang dan tangga nada minor untuk menyampaikan kesedihan. Sampai di sini, mereka melakukan proses penilaian musik secara intelektual (persepsi emosi). Di lain pihak, mereka memahami bahwa musik bisa juga mencuatkan sisi melankolis mereka (terinduksi emosi). Contohnya, saat mendengar alunan string instruments seperti cello, biola, atau gitar, dari komposisi tertentu.
Di samping itu, perbedaan keduanya akan sangat terlihat ketika kita mencermati hubungan emotion perception dan emotion induction itu sendiri. Tidak secara otomatis penikmat musik akan merasakan emosi sejalan dengan ekspresi emosi yang ditampilkan dalam si musik. Sebagai penggemar Tárrega, kedua teman saya tadi mempunyai persepsi yang berbeda terhadap Lágrima, salah satu karya maestro gitar asal Spanyol tersebut. Lágrima yang mempunyai ciri khas “lagu sedih” (percaya atau tidak, ciri-ciri emosi dalam lagu itu mempunyai rumusan tersendiri) dimaknai salah seorang teman saya sebagai lagu yang membuat dia merasa senang, walaupun dia tahu nuansa “asli” lagu tersebut. Apalagi kami sama-sama tahu Lágrima berarti air mata. More or less, it shows how we can differ “knowing the feel of the music” and “feeling the music”.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa musik yang ekspresif nilainya ada pada musik itu sendiri (karenanya dapat dilakukan emotion perception) sekaligus pada si pendengar (terkait dengan emotion induction). Yang perlu diperhatikan lagi adalah adanya faktor ketiga : faktor situasional. Bagaimana musik itu dipresentasikan berpengaruh juga dalam urusan emosi ini. Misalnya, coba saja bandingkan sensasi emosional kamu saat mendengar sebuah musik sendu saat sebenarnya kamu sedang merasa senang dan saat kamu sedang merasa sedih. Pasti berbeda!

Sumber: ruangpsikologi. Melita Tarisa, alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

http://indoreggae.com/id/wp-content/uploads/2015/05/shutterstock_music1.jpghttp://indoreggae.com/id/wp-content/uploads/2015/05/shutterstock_music1-150x150.jpgINDOREGGAENewsSelera Musik,Warna-Warni Emosi dalam Musik
Pernah bertanya-tanya kenapa kamu bisa begitu menghayati suatu musik atau lagu? Misalnya, lagu melankolis yang kamu dengarkan ketika sedang patah hati atau lagu yang entah kenapa bisa membuat kamu begitu bersemangat? Nah, pertanyaan itu juga menjadi minat para peneliti yang mendalami teori emosi dalam musik. Ya, musik dapat mempunyai muatan...