
Di tengah ledakan musik punk dan rock Inggris akhir 1970-an, The Police tampil berbeda, yaitu campuran rock, punk, reggae, dan new wave. Musik mereka terdengar ringan tapi dalam, sederhana namun kuat. Salah satu kuncinya ada pada permainan bass Sting, yang ternyata banyak dipengaruhi oleh musik reggae dari Jamaika.
Bagi Sting, reggae bukan sekadar genre, melainkan cara berpikir bermusik. Di Jamaika, ia belajar bahwa bass tidak harus ramai untuk terasa dominan.
Justru dengan pola yang pelan, berulang, dan penuh ruang, bass bisa menjadi penopang utama lagu. Di Jamaika, Sting menyerap:
- One-drop feel (meski drum-nya Copeland, bass-nya ikut “mengunci” groove itu).
- Off-beat consciousness: tahu kapan tidak main.
- Bass sebagai narator emosi lagu.
Pengaruh itu terasa jelas dalam lagu-lagu The Police seperti Roxanne, Walking on the Moon, dan So Lonely. Bass berjalan santai, tidak mengejar kecepatan, tetapi mengarahkan suasana. Musik mereka terdengar tenang, meski liriknya sering gelisah.
Dari Musik ke Makna Sosial
Menariknya, estetika reggae yang dipelajari Sting tidak hanya memengaruhi bunyi, tetapi juga cara pandang. Reggae sejak awal lahir sebagai musik perlawanan: terhadap ketidakadilan dan kemiskinan.
Nilai ini sejalan dengan lirik-lirik Sting yang sering mempertanyakan relasi kuasa, keterasingan, dan kecemasan manusia modern.
Every Breath You Take, misalnya, sering disalahpahami sebagai lagu cinta. Padahal isinya tentang obsesi dan kontrol, tema yang justru semakin relevan di era pengawasan digital hari ini.
Menariknya, The Police tidak meniru reggae mentah-mentah. Sting menyaringnya, memadukan dengan rock dan jazz, lalu melahirkan karakter musik yang unik. Reggae memberi fondasi, sementara kecerdasan lirik dan energi band memberi identitas.
Dari bass reggae, Sting belajar satu hal penting: kekuatan ada pada kesadaran arah, bukan keramaian bunyi. Mungkin itulah sebabnya band yang digawangi oleh Sting (bass, vokal utama),Andy Summers (gitar), Stewart Copeland (drum), lagu-lagu The Police tetap terasa relevan hingga hari ini, sederhana, jujur, dan tidak kehilangan makna.
Walau cuma aktif sekitar 1977–1986, The Police tetap salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik modern. Mereka bubar di puncak popularitas, lalu reuni sebentar di 2007–2008. (FIR)
