
Sejak 2025 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah pengamatan global, sebuah fakta yang secara ilmiah mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan para ilmuwan iklim di seluruh dunia.
Menurut data dari layanan pemantauan iklim Copernicus dan badan ahli Eropa, suhu rata-rata global berada di level tertinggi ketiga sejak pencatatan modern dimulai — bahkan mendekati batas kritis 1,5°C di atas era pra-industri yang dulu dipandang sebagai ambang batas aman dalam Perjanjian Paris.
Tren Panas yang Tak Pernah Reda
Menurut para ahli, tren pemanasan global ini bukan sekadar puncak sesaat, tetapi bagian dari pola yang terus meningkat. Tahun 2024 bahkan sempat memecahkan rekor sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, dan 2025 mengikuti jejaknya dengan nilai ekstrim yang hampir tak kalah mencolok.
Friederike Otto, ilmuwan iklim dari World Weather Attribution, mengatakan bahwa kejadian cuaca seperti gelombang panas yang mematikan menjadi sepuluh kali lebih mungkin terjadi sekarang dibandingkan dekade lalu — sebuah indikasi jelas bahwa pemanasan global menambah frekuensi maupun intensitas kejadian ekstrem.
Cuaca Ekstrem Bukan “Kemungkinan”, Tapi Realitas
Tak hanya panas yang ekstrem terlihat secara global. Ribuan peristiwa cuaca ekstrem terjadi sepanjang 2025, di antaranya:
- Gelombang panas mematikan yang menerjang berbagai benua.
- Kebakaran besar yang menyebabkan kerugian besar di Los Angeles, dengan total kerusakan mencapai puluhan miliar dolar AS.
- Banjir dahsyat dan tanah longsor di Sumatera yang menelan ratusan korban jiwa dan ribuan mengungsi.
Di Indonesia, BMKG sendiri menyampaikan bahwa perubahan iklim telah memicu pola cuaca lebih ekstrem, lebih intens, dan makin tidak dapat diprediksi. Kombinasi fenomena atmosfer lokal, seperti Madden-Julian Oscillation, serta pengaruh global dari penghangatan laut menjadi salah satu faktor utama.
Data BNPB juga menunjukkan curah hujan ekstrem mencapai angka tertinggi dalam enam tahun terakhir di Sumatra, dengan intensitas curah hujan hingga >400 mm per hari di beberapa lokasi — kondisi yang secara meteorologis jarang terjadi tanpa kondisi perubahan iklim.
Para Pakar Menyuarakan Alarm
Pakar iklim Indonesia, termasuk Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, secara tegas menyatakan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan — tetapi sudah menjadi realitas sehari-hari. Dampaknya dirasakan di skala lokal hingga global, dari gelombang panas hingga banjir besar.
Sementara itu, analis cuaca internasional seperti Tim Osborn dari University of East Anglia menegaskan bahwa fenomena ekstrem ini “memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pemanasan dasar yang sedang terjadi di planet ini”.
Dampak Sosial & Ekonomi yang Semakin Berat
Tidak hanya statistik iklim, perubahan ekstrem ini juga membawa dampak nyata bagi masyarakat. Laporan global memperkirakan bahwa cuaca ekstrem menjadi salah satu ancaman terbesar bagi perekonomian dunia, mengancam stabilitas produksi pangan, infrastruktur, serta kesehatan masyarakat.
Para pakar ekonomi dan iklim memperingatkan bahwa tanpa mitigasi dan adaptasi yang lebih kuat, biaya sosial dan ekonomi dari fenomena ini akan terus meningkat.
Bagaimana Dunia Menanggapi?
Upaya ilmiah terus dilakukan, termasuk seruan baru untuk layanan yang lebih canggih dalam menilai dampak perubahan iklim pada cuaca ekstrem, sebuah langkah global yang sedang dirancang oleh Uni Eropa untuk memberi attribution science service yang lebih canggih terhadap kejadian iklim lokal dan global.
Namun, ketidaksepakatan politik dan perbedaan kebijakan antarnegara terkadang memperlambat respons global terhadap krisis ini. Kritikus menggarisbawahi perlunya tindakan segera untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, memperluas energi terbarukan, serta memperkuat sistem peringatan dini dan adaptasi di seluruh dunia.
Batas Aman Akan Makin Tipis
Perubahan iklim sekarang bukan lagi wacana ilmiah yang jauh, melainkan kenyataan yang memengaruhi kehidupan jutaan orang. Paket data terbaru menunjukkan dunia sedang menuju fase yang semakin sulit jika ambang batas iklim terus dilampaui.
Apa yang dulu dianggap ekstrem — gelombang panas yang memecahkan rekor, curah hujan yang belum pernah tercatat, kebakaran hutan yang ganas — kini menjadi bagian dari hari besar iklim dunia. Di balik angka statistik dan istilah ilmiah, jutaan manusia harus menghadapi dampaknya secara langsung. (fir)
