
Okuda Hiroko adalah sosok pelopor di bidang teknologi sekaligus musik, yang mencatat sejarah sebagai perempuan pertama lulusan perguruan tinggi yang direkrut oleh Casio. Karyanya melahirkan “Sleng Teng Riddim,” sebuah preset pada keyboard Casio yang kemudian merevolusi musik reggae.
Perjalanan Hiroko berawal dari ketertarikan besar pada musik dan teknologi, di masa ketika perempuan jarang terlibat dalam bidang teknis. Lahir di Jepang, sejak kecil ia sudah menunjukkan rasa ingin tahu terhadap cara kerja suara sekaligus kecintaan pada musik. Alih-alih mengikuti jalur konvensional, ia memilih mengambil jurusan teknik elektro—sebuah langkah berani bagi perempuan pada masa itu.
Bergabung dengan Casio pada awal 1980-an, Hiroko dengan cepat menemukan perannya di divisi keyboard. Saat itu Casio tengah bertransformasi dari produsen kalkulator dan jam tangan menjadi pengembang alat musik elektronik. Keahliannya di bidang musik dan teknologi menjadikannya sosok yang tepat. Ia berperan penting dalam pengembangan preset, yang memungkinkan musisi menciptakan musik dengan lebih mudah, dengan fokus pada menghadirkan suara yang menarik dan mudah diakses.
Saat mengembangkan preset untuk keyboard Casio MT-40, Hiroko menciptakan pola ritme yang dikenal sebagai “Sleng Teng Riddim.” Awalnya, preset ini dirancang sebagai nuansa reggae agar pengguna dapat merasakan genre tersebut. Namun, pengaruhnya melampaui laboratorium Casio.
Musisi Jamaika, terutama produser King Jammy dan artis Wayne Smith, melihat potensinya dan menjadikannya fondasi lagu hit tahun 1985, “Under Mi Sleng Teng.” Lagu ini sukses besar dan menandai lahirnya era dancehall digital dalam reggae.
“Sleng Teng Riddim” langsung memberi dampak besar, merevolusi reggae dengan suara sintetis yang khas. Ia membuka cara baru yang lebih mudah dan terjangkau dalam membuat musik, membantu musisi mengatasi keterbatasan alat mahal dan biaya studio. Pengaruhnya menyebar luas, menginspirasi musisi reggae hingga genre lain seperti elektronik, hip-hop, dan pop. Riddim ini menjadi tonggak budaya, dan pengaruhnya masih terasa hingga kini melalui berbagai versi baru yang terus bermunculan—membuktikan daya tarik abadi dari suara yang ia ciptakan.
Meski kontribusinya tidak langsung mendapat pengakuan, karya Hiroko akhirnya diakui oleh para sejarawan dan penggemar musik. Seiring berkembangnya dancehall digital, banyak yang menelusuri asal-usulnya ke Casio MT-40 dan preset ciptaannya. Kini, ia diakui sebagai figur penting dalam teknologi musik dan dirayakan atas kiprahnya di bidang yang masih minim representasi perempuan.
Walaupun dikenal sebagai pribadi yang tertutup, warisan Hiroko melampaui pencapaian teknisnya. Ia juga aktif mendorong pendidikan STEM bagi perempuan di Jepang, berbagi pengalaman melalui berbagai acara dan konferensi. Melalui advokasi dan bimbingannya, ia terus menginspirasi generasi baru insinyur dan musisi perempuan.
Kisah Okuda Hiroko adalah cerita tentang ketangguhan dan inovasi—cerminan semangat pelopor sejati. Sebagai perempuan pertama lulusan perguruan tinggi yang direkrut Casio, ia membuka jalan di industri yang didominasi laki-laki, sekaligus membantu membentuk suara yang menggema lintas genre dan benua. “Sleng Teng Riddim” menjadi simbol pertemuan teknologi dan musik. Karyanya adalah bukti bahwa rasa ingin tahu, tekad, dan jalur tak terduga dapat melahirkan pengaruh besar—sebuah revolusi sunyi yang menunjukkan bahwa inovasi sering lahir dari tempat yang tidak terduga, dan satu karya bisa mengubah budaya dunia. (FIR)
