alterntif text
News

Toots Hibbert, musisi yang cetuskan istilah reggae tutup usia.

Photo: GetImages

Toots Hibbert, vokalis grup musik legendaris beraliran reggae, Toots and the Maytals, wafat pada usia 77 tahun, 11 September lalu.

Hibbert selamanya akan dikenang sebagai musikus berpengaruh, sekaligus salah satu orang yang pertama kali mempopulerkan reggae pada dekade 1960-an, lewat lagu-lagu seperti “Pressure Drop”, “Monkey Man”, dan “Funky Kingston”.

Lewat lagu berjudul Do the Reggay yang dirilis tahun 1968, Hibbert bahkan mengklaim sebagai orang yang menemukan istilah reggae.

Hingga tulisan ini dibuat, penyebab kematian Hibbert belum dipublikasikan. Namun sebelumnya dia sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami gejala Covid-19.

Setelah itu Hibbert dilaporkan mengalami koma. Seorang juru bicara keluarga pemusik itu menyatakan bahwa Hibbert berjuang menyelamatkan nyawanya.

Sebagai penampil yang kharismatik, Hibbert memiliki 31 lagu hit di Jamaika. Karena suaranya yang bertenaga, dia kerap disejajarkan dengan musikus legendaris asal Amerika Serikat, Otis Redding.

Bermula di tempat cukur rambut

Hibbert lahir di May Pen, sebuah kota sekitar 50 kilometer sisi barat ibu kota Jamaika, Kingston, pada Desember 1942. Dia adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Saat kanak-kanak, Hibbert rutin menyanyikan musik gospel untuk paduan suara gereja. Selama duduk di bangku sekolah, dia mulai berambisi menjadi seorang pemusik.

“Kami harus bernyanyi sebelum kelas, bernyanyi di pagi hari,” katanya kepada BBC 6 Music tahun 2018.

“Guru berkata, ‘Ya, kamu memiliki suara terbaik.’ Itu memberi saya dorongan yang positif,” tuturnya.

Ibunya yang berprofesi sebagai bidan meninggal ketika Hibbert berusia delapan tahun. Ayahnya meninggal tiga tahun kemudian. Saat remaja, dia pindah ke Kingston. Di sana dia tinggal bersama kakak laki-lakinya, John, yang menjulukinya ‘Little Toots’. Di kota itu, Hibbert mendapatkan pekerjaan di
Di tempat pekerjaan itu, Hibbert menjalin persahabatan dengan penyanyi Jerry Matthius dan Raleigh Gordon. Mereka kemudian membentuk grup musik The Maytals. Pada tahun 1962, kala Jamaika merdeka dari Inggris, grup musik ini ‘ditemukan’ oleh Clement “Coxsone” Dodd. Lewat label Studio One miliknya, Dodd mengontrak The Maytals.

Selama 10 tahun berikutnya, grup musik ini merilis berbagai lagu populer, antara lain “Fever”, “Bam Bam”, dan “Sweet and Dandy”. Namun karier kelompok musik itu sempat terhambat pada tahun 1967, ketika Hibbert ditangkap dalam kasus kepemilikan ganja. Hibbert dipenjara selama sembilan bulan penjara. Setelah menghirup udara bebas, dia menciptakan lagu berjudul “54-46 (That’s My Number)”. Angka tadi merujuk nomor identitasnya di penjara.

Lagu itu menjadi salah satu lagu beraliran reggae pertama yang menuai popularitas luas di luar Jamaika. Lagu “54-46 (That’s My Number)” memperkenalkan banyak kalangan di Eropa pada reggae.

Namun pada saat itu belum ada istilah reggae. Musiknya yang disebut evolusi dari aliran ska dan rocksteady itu disebut sebagai blue-beat atau boogie-beat.

“Musiknya ada, tapi tidak ada yang tidak tahu harus menyebutnya apa,” kata Hibbert.

“Di Jamaika kami memiliki bahasa gaul. Jika ada orang yang tidak terlihat begitu rapi, jika dia tampak compang-camping, kami akan menyebutnya ‘streggae’. Dari sanalah saya mengambil istilah reggae.

“Saya merekam lagu ‘Do The Reggay’. Orang-orang berkata kepada saya, lagu itu membuat mereka tahu bahwa musik kami disebut reggae. Jadi saya yang menciptakan istilah itu,” tuturnya.

The Maytals mencuat dalam periode yang sama dengan calon legenda musik reggae lainnya, seperti Bob Marley dan the Wailers, Lee “Scratch” Perry, PeterTosh, dan Jimmy Cliff. Hibbert dan grup musiknya menjalani rekaman dengan hampir semua musikus penting Jamaika kala itu, dari Skatalites hingga Prince Buster.

“Itu adalah periode yang kompetitif dan bersahabat, saat-saat emas,” kata Hibbert baru-baru ini kepada majalah Rolling Stone.

Grup musiknya kemudian mencetak hit di Inggris lewat lagu “Monkey Man” pada tahun 1970, Dua tahun setelah itu, Hibbert muncul dalam film tenar berjudul “The Harder They Come”.

Film klasik itu dibintangi Jimmy Cliff yang berperan sebagai Ivan, seorang pemuda yang melakukan perjalanan ke Kingston untuk mencari peruntungan sebagai penyanyi.

Saat Ivan pertama kali masuki studio rekaman, The Maytals tengah merekam sebuah lagu. Mata Ivan pun bersinar karena takjub. Lagu The Maytals berjudul “Pressure Drop” menjadi musik latar di film yang memperkenalkan reggae kepada banyak penggemar musik di Amerika Serikat itu.

Belakangan, lagu itu dimainkan ulang oleh grup musik The Clash. Itu memperkuat reputasi The Maytals di Inggris.

Pada tahun 1980, mereka masuk buku rekor Guinness Book of World Records. Pangkalnya, rekaman konser mereka di Hammersmith Palais, London, dicetak ke bentuk vinil dan dirilis hanya dalam 24 jam.

Setahun setelahnya, grup musik itu ditinggalkan dua personelnya, Matthias dan Gordon. Sejak saat itu Hibbert melanjutkan karier sebagai artis solo.

Muncul kembali lalu cedera Hibbert membentuk ulang The Maytals pada awal dekade 1990-an. Mereka menjalani tur yang padat. Namun baru lewat album True Love, pada 2004, kehadirannya kembali diperhitungkan dalam industri musik.

Pada album itu, Hibbert menawarkan versi baru lagu-lagu populernya. Dia berduet dengan sejumlah bintang, antara lain Eric Clapton, Keith Richards, No Doubt, Willie Nelson, Bonnie Raitt dan the Roots.

Kemenangannya di ajang Grammy meremajakan karier musiknya. Dia lalu merilis album solo, Light Your Light, pada 2007. Kala itu dia menjalani tur untuk memperingati 50 tahun pembentukan The Maytals pada 2012.

Tahun berikutnya, Hibbert mengalami cedera saat konser. Dia tidak dapat tampil sampai 2016.

“Ketika itu kami tampil di pertunjukan di sebuah perguruan tinggi. Seorang penonton sangat menyukai musik saya sehingga dia melempar botol minuman keras ke atas panggung,” kata Hibbert tentang awal mula cederanya.

“Saya mencoba menangkap botol itu tapi malah mengenai kepala saya. Sayang sekali itu terjadi. Saya butuh tiga tahun untuk membuat penggemar bahagia lagi.”

Penggemar Hibbert itu ditangkap polisi. Di pengadilan, Hibbert berkata kepada hakim bahwa dia menderita kecemasan ekstrem, hilangan ingatan, sakit kepala, dan yang paling menyedihkan, takut menghadapi kerumunan orang dan pertunjukan.

Namun, Hibbert meminta agar penggemarnya yang berusia 19 tahun itu dijatuhi hukuman ringan.

“Dia masih muda. Saya selama ini mendengar apa yang terjadi pada laki-laki muda di penjara,” ujarnya melalui pernyataan tertulis kepada hakim.

“Rasa sakit dan penderitaan saya akan meningkat secara substansial jika mengetahui bahwa pemuda ini akan menghadapi hal itu,” tuturnya.

Penggemar Hibbert itu akhirnya dihukum enam bulan penjara.Pada tahun-tahun berikutnya, Hibbert melakukan rekaman di rumahnya. Baru-baru ini dia merilis album terakhirnya, Got To Be Tough.

Album itu dia produksi bersama putra Ringo Starr, Zak Starkey, yang mengagumi sang musisi reggae sejak lama.

“Kekuatan suaranya melampaui siapa pun yang pernah saya temui,” kata Starkey kepada Rolling Stone.

“Dia telah melalui semua generasi musik Jamaika. Dia berdiri di paling depan pada awal kariernya dan sekarang pun dia tetap di depan. Betapa luar biasa itu?” ucap Starkey.

Pada tahun 2012, Hibbert memaparkan pandangannya tentang reggae di majalah Interview. Hibbert menggambarkan lagu-lagunya sebagai pesan penghiburan dan keselamatan.

“Orang-orang muda pergi ke sekolah dan harus mendengarkan liriknya. Orang tua dan Tuhan pun harus mendengarkannya. Jadi, saya harus membuat lirik itu positif.

“Jika Anda menyanyikan lagu anak-anak, tidak apa-apa. Lagu Anda bisa saja meledak besok tapi dia akan hilang pada saat yang sama.

“Tapi jika Anda menggunakan kata-kata yang positif, lagu itu hidup selamanya,” kata
Hibbert.

back to top